Aku dan Kehidupan
Aku dan Kehidupan
Bergulir waktu
yang kian merata, kini aku dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Iin Rohayati
dan ayah yang bernama Muhtar yaitu ketika matahari masih mengeluarkan cahayanya,
aku dilahirkan pada tanggal 01 Oktober 2003 tepatnya hari Selasa. Ketika hari
aqiqah, ayahku memberikan aku nama dengan nama yang sangat indah dan cantik yaitu
Sofia St hajar Rahmini mh orang tuaku bercerita bahwa Mh merupakan singkatan nama ayah yang hanya diberikan kepada anak
bungsu dan aku merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara, aku memilki kakak
laki-laki dua dan kakak perempuan empat. Namun, kakak perempuanku yang kelima
dipanggil oleh Allah ketika usianya masih bayi sehingga di rumah
itu ada 6 bersaudara.
Aku dilahirkan di kampung Garogol yang merupakan tempat tinggalku sampai saat ini. Keluarga ayah berasal dari pasirkiamis, tempatnya itu tidak terlalu jauh dari tempat keluarga ibu berasal. Keluarga ibu berasal dari garogol hampir semua keluarga dari ibu bertempat tinggal di sana karena garogol itu tempatnya sejuk dan adem. Di sana itu sudah memiliki pasilitas sekolah mulai dari TK, MI, MTS, dan MA. Sehingga, tempat tinggalku dikelilingi oleh sekolah-sekolah.
Garogol itu meskipun jauh dari kota akan tetapi tempatnya nyaman untuk ditinggali. Jalan menuju kesana itu cukup jauh namun indah karena banyak sekali sawah dan pepohonan yang bagus, tidak jarang orang datang kesana karena tempat tinggalku itu dekat sekali dengan wisata darajat kira-kira 25 menit untuk sampai kesana, banyak orang-orang kota yang penasaran datang berkunjung ke tempat wisata itu.
Ayahku bekerja sebagai seorang guru. Hampir 35 tahun berprofesi menjadi seorang guru awalnya mengajar di SD pasirkiamis akan tetapi karena harus bulak balik jauh dari garogol ke Pasirkiamis akhirnya beliau pindah ke SDN Padaasih 2 yang lebih dekat dari rumah. Sedangkan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga hebat yang paling istimewa tak terkalahkan, ibukulah yang mengurus dan mendidik aku hingga sampai ini dan menjadikan aku yang sekarang.
Rumahku dekat sekali dengan sekolah Persis. Berbicara mengenai tempat tinggalku, karena ayahku bekerja di tempat yang cukup jauh dari rumah sehingga mengharukan keluargaku berpindah-pindah tempat tinggal, kadang di nenek yang di kampung garogol dan terkadang pula tinggal di nenek yang berada dipasir kiamis. Sehingga, rumah keluargaku yang di Garogol sering dikosongkan tapi ketika ayah pindah bekerja, rumah yang di Garogol ditempati kembali.
Ketika aku belum memasuki dunia sekolah, aku sering sekali diajak oleh ibuku pergi kepasar, di sana aku mengenal dunia luar bisa mengenal orang-orang yang sedang melakukan jual beli dan banyak lagi kegiatan yang mereka lakukan. Aku adalah anak yang paling suka ketika diajak jalan-jalan. Sehingga, ibuku pasti membawaku kemanapun beliau pergi dan juga kerabatku pasti sudah tau sehingga, dulu ketika kakeku bercocok tanam dikebun pasti selalu datang ke rumah terlebih dahulu untuk mengajaku berkebun. begitupula dengan Ayahku yang sering mengajak aku berkunjung ke rumah kakek dan nenek dipasirkiamis ketika hari libur, di sana aku sangat senang karena kakek dan nenekku sangat memanjakan aku, apapun yang aku minta selalu dituruti. Akan tetapi, setelah aku memasuki dunia sekolah SMA aku menjadi jarang berkunjung kesana karena berbedanya hari libur.
Aku pernah mengalami jatuh beberapa kali. Namun, yang paling parah adalah ketika aku berumur tiga tahun, pada saat itu ibu dan aku berniat pergi ke rumah nenek yang dikendarai oleh kakaku yang pertama, dimotor aku terjatuh ke bawah dan aku sempat patah kaki namun Allah maha baik melindungiku sehingga tidak begitu parah dengan penyembuhan kaki yang cukup lama dan aku sendiri yang mengalaminya tidak menyadari pernah terjadi itu karena mungkin umurku yang belum mengerti dan masih polos, aku tahu karena diceritakan oleh orang tuaku untuk dijadiakan sebuah pelajaran agar selalu berhati-hati.
Dikampung, ketika aku belum sekolah aku memiliki banyak teman salah satunya adalah Fadila sadiya kemana-mana pasti selalu bersama, bermain dan bercanda tanpa mengenal waktu. Itu merupakan pengalaman yang paling menyenangkan karena waktu itu masih belum terikat dengan tanggung jawab sekolah, tempat bermain paling nyaman ketika waktu kecil adalah bermain di lapang sekolah dan sawah ladang warga, apapun itu pasti aku merasakan banyak sekali keseruan yang aku peroleh. Tapi bukan hanya bermain saja, aku memperoleh pendidikan. Seperti mengaji khusus perempuan yang diadakan pada jam 18.00 tepatnya setelah Maghrib sampai isya. ketika hari Jumat kita anak-anak disibukan dengan jumsih atau Jumat bersih, di sana kita bergotong royong membersihkan mesjid dan disitulah moment yang paling aku rindukan karena, banyak sekali candaan dan gurawan bersama teman-teman, setelah kita selesai membereskan masjid, pa RW selaku penjaga mesjid pasti selalu memberikan kita makanan berupa gorengan atau apap un dan itu pengalaman yang paling berharga yang pernah aku temui.
Waktu kecil aku juga sering membantu ibuku di rumah. Termasuk membantu membuat makanan ringan untuk dijual seperti lumpia kering, setiap hari pasti aku dan kakakku membuat itu karena membuat lumpia itu dibutuhkan keterampilan banyak tangan, proses pembuatannya itu cukup lama dan sedikit ribet, kita juga pasti sering dikasih upah ketika pekerjaannya beres. Setelah prosesnya beres ibuku sering menyimpan dagangannya di warung-warung terdekat dan Alhamdulillah itu berjalan cukup lama namun, seiring waktu berlalu ibuku berhenti karena ada beberapa hal yang perlu diprioritaskan olehnya juga dengan kehadiran keluarga yang semakin bertambah dan akhirnya berhenti.
Terkadang aku juga sering membantu nenekku yang dari ibu memasak untuk para pegawai di ladang sawah. setiap hari mereka pasti dikasih makan dan aku yang mengantarkan makanan itu ke sawah apalagi kakek juga ikut menanam di sana. Dan aku juga sering mengantarkan air hangat yang ibuku buat untuk mereka, hampir setiap hari aku pasti mengirimkan air hangat untuk mereka, umur mereka sudah tua renta sehingga, wajib bagi kita sebagi cucunya membantu semapmu yang aku bisa.
Aku dan keluargaku setiap setiap sehabis sholat shubuh pasti mengadakan liqo membaca Alquran bersama-sama diruang tengah. Di sana, aku diajarkan oleh ibuku tahsin dan cara membaca Alquran yang benar, sekaligus menghafal ayat-ayat Alquran yang pendek yang dimulai dari juz 30.
Pada saat umurku 5 tahun, aku sering belajar bersama ibuku di rumah di sana aku belajar sebagaimana layaknya seseorang masuk taman kanak-kanak, membaca huruf dari A-Z kemudian belajar iqra, belajar matematika dasar dan juga bahasa Indonesia. Namun, aku merupakan anak yang paling susah dibujuk ketika ibuku mengajak aku belajar, karena waktu itu hobiku adalah bermain diladang sawah, saking susahnya aku diajak buat belajar ibuku sampai mencari-cari kesana kemari dimana aku berada, Atau memberikan aku hukuman jika tidak belajar maka aku Tidak akan mendapatkan uang jajan dan tidak mendaptkan jatah main keluar, dengan cara itu aku menjadi luluh dan mau untuk belajar.
Pada masa itu, belajar bagiku merupakan sebuah hal yang menyulitkan karena aku susah untuk fokus terhadap sesuatu, menulispun bagiku hal yang paling susah karena mukin tidak terbiasa dan tidak dibiasakan, makanya berat sekali ketika ibuku menyuruh aku membaca dan menulis. Namun, seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa jika aku ingin bisa maka aku harus terus berlatih.
Hal yang paling menyenangkan diumur 6 tahun adalah ketika hari menjelang idul Fitri. karena biasanya, setiap satu tahun sekali ibuku sering mengajaku kepasar membeli baju dan sendal yang baru sesuai dengan keinginan yang aku mau, aku sangat bahagia sekali, apalagi ketika menjelang makan-makan setelah sholat Ied, semua keluarga berkumpul saling maaf-maafan dan anak-anak dikasih sebuah hadiah Atas prastasinya berhasil menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh di bulan ramadhan, dengan itu aku selalu membelikan Apapun yang aku suka.
Begitu pula ketika menjelang idul adha tiba, aku dan teman-temanku dihebohkan dengan datangnya sapi yang cukup banyak, aku selalu bermain dengan sapi-sapi itu dengan cara memberikannya makan, juga tak lupa pasti memberikannya sebuah nama dan ketika hari disembelih tiba, aku selalu sedih karena perjumpaan yang sangat singkat sekali dengan mereka, ketika malam takbiran sapi-sapi terlihat mengucurkan air mata, bagiku mereka juga merasakan apa yang akan terjadi pada mereka hari itu.
Aku mulai memasuki kelas 1 SD di umur 6 tahun. Akan tetapi, aku tidak merasakan seperti apa yang orang lain rasakan kebanyakan di bangku sekolah dasar, aku masuk dunia pendidikan homeschooling sejak kelas satu SD sampai kelas lima, banyak sekali kejenuhan yang aku rasakan setiap hari. Belajar yang hanya dirumah tanpa ada seorang teman satupun, hanya ada seorang murid dan seorang guru. hampir 5 tahun aku belajar dirumah, dengan porsi dan tempat yang sama membuat aku mudah bosan dan merasa cemburu terhadap teman-temanku yang sudah mulai banyak teman, banyak wawasan diluar rumah, bersosial dengan banyak orang, dan mengenal bagaiman rasanya sekolah dasar.
Ayahku selalu menasehati dan selalu memberikan alasan kenapa aku disekolahkan di rumah, ayahku bilang bahwa kelebihannya itu terpantau oleh orang tua dan ayahku tidak ingin anaknya masuk ke dalam pergaulan negatif yang paling dia khawatirkan, saudaraku yang lainnya juga di sekolahkan di rumah mulai dari anak ke satu sampai anak ke enam, alasannya sama yaitu ingin lebih terpantau. Namun, homeschooling juga memiliki kelemah yaitu aku menjadi susah sekali berinteraksi dengan banyak orang, susah buat berbaur dengan yang lain dan susah buat memahami keadaan apa yang aku alami.
Waktu masuknya pembelajaran itu dari jam 08.00 sampai jam 11.00, sistem belajarnya sama seperti halnya anak yang bersekolah di sekolah dasar pada umumnya. Namun, yang membedakan itu belajarnya lebih kondusif, karena gurunya fokus pada satu murid, di sana aku bebas melakukan apapun, belajarnya bisa sambil bermain, makan dan melakukan apapun yang aku suka. Jadi, kegiatan aku pada pagi harinya adalah sekolah, kemudian sore harinya main bersama teman-teman, magribnya mengaji bersama di salah satu tempat Markaz tahfid di garogol.
Aku mengikuti liqo tahfidz di Markaz garogol Ketika aku masih keci. Karena, guru yang mengajar di sana merupakan bibiku sendiri, jadi setiap hari hampir wajib melakukan setoran hafalan. Markaz itu hanya dikhususkan untuk anak sekolah dasar. Sehingga, meskipun aku tidak bersekolah di formal akan tetapi aku bisa tetap bertemu dengan sebagian orang baru di liqo tahfid. Di sana, aku dibimbing menghafal juz 29 dan wajib nambah setengah halaman setiap hari, cukup sulit namun setelah dijalani ternyata menyenangkan.
Kegiatanku selanjutnya adalah membantu ayah bertani di kebun setiap sore yaitu ketika ayah sudah selesai mengajar di sekolahnya. Ayah suka sekali menanam tebu karena itu adalah makanan yang paling aku suka juga sering menanam kacang. setiap hari pasti menyiram dan mencabut rumput-rumput yang mengganggu si kacang untuk bertumbuh. Setelah musim panen tiba aku dan keluargaku panen bersama dan hasilnya diberikan kepada kerabat-kerabat di kampung.
Banyak sekali pengalaman yang aku alami selama aku menginjakan kaki di umur sekolah dasar, aku juga sempat menjual puding di di depan Rumah bersama teman-temanku pada saat bulan Ramadhan tiba dan Alhamdulillah jualanku pasti selalu ramai dengan pembeli karena teman-temanku penyuka makanan manis sehingga menyukai apa yang aku jual. Selain puding aku juga pernah jualan es jambu yang aku panen sendiri jambunya di kebun, yang dijual dengan harga Rp 500 dan Alhamdulillah banyak juga yang membeli, selain murah rasanya juga enak. Selain itu, masih banyak lagi makanan yang aku jual ketika aku menginjak sekolah dasar, itu adalah suatu hal yang sangat menyenangkan dan pengalaman yang berharga yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya.
Ketika aku berusia 9 tahun, tepatnya ketika awal mula aku berlibur ke pantai pertama kali yaitu ketika kakaku mendapatkan tugas KKN di daerah sana, sehingga aku dan keluargaku sekalian mampir ke tempat kakaku ditugaskan. Itu adalah liburan yang paling menyenangkan selama hidupku, karena aku suka sekali dengan pantai dan itu merupakan kali pertamanya aku keluar umtuk berlibur, di sana aku bermain air laut dan bermain pasir bersama kakakku sampai sendal yang aku pakai akan hanyut dibawa oleh ombak pantai.
Sepulangnya dari pantai, aku dan keluargaku bergegas pergi ke tempat kakaku KKN. Setibanya di sana, kita beristirahat terlebih dahulu kemudian setelah beberapa jam beristirahat aku dan keluargaku melanjutkan perjalanan pulang dan menyimpang ke tempat penjualan ikan, di sana aku meminta dibelikan kepiting dan udang karena itu adalah salah satu makan favoritku dan akhirnya ayah membeli semua jenis ikan yang ada di sana, setelah selesai kita melanjutkan perjalanan pulang dan di tengah perjalanan kita berhenti sejenak untuk makan sekaligus beristirahat karena tempat itu cukup jauh dari rumahku, kira-kira bisa sampai 3 jam untuk sampai ke rumah.
Banyak sekali liburan yang aku lalui ketika sebulum aku masuk SMP, yang tidak mungkin bisa dijelaskan keseluruhannya disini. Namun, yang aku rasakan pada saat itu tentang liburan adalah hal yang pasti ditunggu-tunggu dan itu merupakan bagian dari separuh kebahagiaanku yaitu bisa berkumpul dengan keluarga yang utuh lalu proses kegiatannya yang asik yang tidak akan pernah aku lupakan.
Impianku ketika sekolah dasar tepatnya ketika aku berumur 11 tahun ketika aku menginjak kelas 5 SD ialah ingin menjadi seorang dokter. Karena, pada saat itu aku berpikir bahwa dengan menjadi dokter aku bisa memakai jas berwarna puti, aku suka sekali ketika melihat seorang dokter yang memakai jas putih, alasanku yang ke dua ialah jika aku menjadi seorang dokter maka keluargaku tidak perlu lagi pergi ke rumah sakit yang banyak pasiennya dan menjadi sebuah kebahagiaan jika aku bisa mengobati mereka dengan izin Allah SWT.
Impianku yang kedua adalah ingin menjadi polwan. Karena, aku merasa ingin bisa menjaga orang-orang terdekat, aku sering menonton berita di TV yang marak sekali tentang kejahatan di Indonesia, itu ketika umurku masih kecil jadi belum mengerti makana sebenarnya tentang apa itu impian yang sebenarnya, pada waktu itu aku masih terbawa oleh teman-teman di kampung halamanku.
Awal mula aku masuk dunia sosial yaitu ketika aku berumur 12 tahun ketika akan masuk kelas 6 SD aku berhenti belajar di rumah. kerena, kelas 6 merupakan puncak kelulusan yang akan diadakannya ujian-ujian, hari pertama aku memakai seragam putih, perasaanku pada saat itu campur aduk sehingga menjadi satu yaitu rasa takut yang paling tinggi. Ketika masuk kelas aku disuruh untuk menduduki bangku pertama dan sebangku dengan teman perempuan yang bernama Ai Maryani, kebetulan ayahku selalu ditugaskan mengajar kelas 6 jadi ketika aku masuk kelas 6 gurunya adalah ayahku sendiri.
Pada saat aku menginjak kaki di kelas 6 tepatnya di SDN Padaasih II, di sana banyak sekali pepohonan dan tanaman. Sehingga, sekolahku itu sangatlah sejuk dan nyaman, aku termasuk orang yang introfert sehingga aku menjadi orang yang paling susah untuk berbicara diantara teman-teman yang lain , ketika bel istirahat berbunyi, aku adalah orang yang tidak pernah keluar bangku sampai ada yang mengajak aku untuk keluar, rasa takut yang aku alami sangatlah tinggi. Karena, aku kurang mengerti mengenai medan sekolah itu seperti apa dan bagaimana sebenarnya cara berkomunikasi yang baik dan masih banyak lagi hal-hal yang harus aku pelajari di sana, bahkan ketika upacara hari Senin tiba aku selalu disuruh oleh ayahku untuk membacakan ayat suci alquran namun rasa takutku lebih besar daripada rasa keberanianku sehingga aku mundur dan tidak pernah menjadi petugas upacara.
Selang beberapa bulan, aku mulai menunjukan rasa empatiku terhadap teman-teman. Aku diangkat dan dipercayai oleh teman-teman untuk menjadi bendahara. Pada saat itu, aku sudah mulai bisa mengobrol dan bertanya mengenai sebuah argument, rasa takutku masih ada akan tetapi sedikit ada perubahan. Aku berangkat ke sekolah bersama ayah pukul 08.00 dan berakhir jam 12.00. ketika pulang, aku selalu menunggu ayah menyelesaikan pekerjaan sekolahnya, sambil menunggu ayah menyelesaikan tugasnya aku selalu membantu teman-teman yang sedang piket atau aku sering menunggu di halaman kelas.
karena kelas enam itu banyak sekali ujian-ujian yang akan dihadapi, maka sekolah mengadakan les belajar tambahan agar ujiannya maksimal, ayah dan aku selalu pulang terlebih dahulu untuk makan dan mengganti pakaian. Setelah siap kami berangkat lagi ke sekolah hingga jam 15.00 sore, sampai pada akhirnya aku telah selesai menyelesaikan tugasku di sekolah dasar kelas enam lalu untuk mengadakan perpisahan bersama teman-teman, maka sekolah mengadakan makan-makan bersama dan kita satu kelas dibentuk sebuah kelompok.
Awalnya aku bergabung bersama kelompok 2. Akan tetapi, kata ayahku aku lebih baik sendiri jadi aku membawa makananku sendiri tanpa ada kegiatan untuk membuat makanan bersama teman-teman yang lain, alasan ayahku karena ingin menjaga. Aku sama sekali tidak pernah main bersama teman-teman SD, Kecuali pada jam istirahat dan itupun jarang. Ketika selesai sekolah aku wajib pulang dan tidak diperbolehkan untuk main. Setelah acara makan-makan selesai, besoknya diadakan pelepas kelas 6 tepatnya di lapangan SDN Padaasih II. Agak sedih, namun bagiku tidak terlalu karena aku hanya bertemu dengan mereka sebentar, maka jika sekarang ditanya mengenai teman-teman di SD maka aku akan lupa.
Aku berencana untuk melanjutkan sekolah menengah pertama (SMP) ke MTS Persis Tarogong Garut yang bertepatan di simpang lima. Awal mulanya aku bingung harus melanjutkan sekolah dimana, tadinya aku ingin lebih dekat saja dengan orangtua yaitu di PPI 73 Garogol yang dekat dari rumahku hanya 1 langkah untuk bisa sampai kesana. Namun, kerena beberapa alasan akhirnya aku mencoba mendaftarkan diri masuk kesana melalu jalur beasiswa, setiap hari aku diwajibkan untuk belajar agama tambahan karena ada beberapa pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah dasar seperti aqidah, tahsin, fiqih dan lain sebagainya di sekolah dasar hanya belajar sekilas.
Pada hari penguman aku merasa tidak tenang. Karena, aku takut tidak masuk ke sekolah itu dan qodarullah aku tidak masuk beasiswa karena tahsinnya yang kurang. Akhirnya aku masuk tapi non beasiswa, awal kenapa aku mengikuti beasiswa di persis tarogong ialah karena ada beberapa fasilitas yang menunjang aku bertumbuh, dan tahun sebelumnya kakaku juga ikut testing beasiswa dan Alhamdulillah dia lulus, mondok di sana kurang lebih 1 semester dan akhirnya keluar karena tidak betah.
Ternyata disinilah aku melanjutkan sekolah yaitu di PPI 76 Tarogong, pada awalnya ini adalah tempat asing yang tidak pernah aku kunjungi tempatnya luas Namun, jika aku ceritakan bagaimana rasanya bersekolah di PPI 76 tentunya suatu hal yang menjadi kebanggan tersendiri dan tentunya merasa bersyukur, bisa mengenal guru-guru yang luar biasa bagus, arsitekturnya memadai, dan kompenen-kompene lainnya mendukung, semua guru dan murid di sana dibimbing agar menerapkan ke disiplin yang tinggi.
Tata tertib di sana itu cukup ketat, setiap siswa diberi sebuah buku kecil yang dinamakan dengan buku poin, yang tentunya untuk memberikan sebuah poin, baik itu pelanggaran ataupun penghargaan, di sana terdapat pasal-pasal yang harus kita taati, mulai dari tidak membawa buku pelajaran poinnya 10 samai berpacaran poinnya 100, Pasti orang tuanya itu dipanggil ke sekolah agar memberitahukan kepada anaknya tentang pelanggaran yang dia lakukan, begitupun sebaliknya penghargaan juga dikasih poin dan tentunya diberikan sebuah hadiah.
Mengenai kendaraan yang aku pakai, Jarak dari rumah ke sekolah menempuh waktu cukup lama kira-kira 1 jam lebih, makanya aku berangkat dari sana jam setengah enam ketika suasananya masih gelap, masuknya itu Jam setengah tujuh sehingga aku harus pagi-pagi sekali dari rumah, ketika berangkat sekolah aku harus terlebih dahulu berjalan kaki hingga gapura dan di sana aku bisa mendapatkan angkutan umum, yang berwarna kuning yang sering disebut dengan angkot Pasirwangi, angkutan itu sangat jarang sampai-sampai aku harus menunggu 15 menit, angkutan itu harus penuh terlebih dahulu. Jika tidak, maka tidak akan jalan yang istilah itu disebut dengan “ngetem”. Makanya aku merasa kesal sekali jika harus ngetem terlebih dahulu.
Tempat pemberhentian angkutan umum Pasirwangi yaitu di pasar samarang. Aku dan kakaku turun kemudian menaiki angkutan umum samarang dari sana lumayan cukup jauh yaitu kira-kira akan nyampe 30 menit, belum jika ngetem akan menghabiskan waktu hingga 40 menit, kemudian berhenti di simpang lima dan dari situ berjalan kaki cukup dekat ke tempat gerbang masuknya Ummahatul Ghod ( UG).
Aku dan kakaku akhirnya sama-sama pulang pergi antara sekolah dan rumah. Awal mulanya aku tidak langsung naik kendaraan umum ketika berangkat yaitu diantarkan oleh kakak dengan menggunakan motor dan ketika pulangnya aku menggunakan angkutan umum, pada saat itu aku belum berani untuk naik kendaraan umum sendiri makanya aku pasti harus bersama dengan kakaku, antara aku yang menunggu atau kakaku yang menunggu aku keluar kelas.
Ada sebuah cerita yang paling berkesan sekali ketika inget kejadian itu rasanya malu sekali. Yaitu, ketika kakaku meninggalkan aku sendirian di sekolah, padalah saat itu aku tidak bisa naik angkot, itu terjadi pada hari keenam sekolah waktu aku kelas 7. Itu terjadi pada hari Kamis, karena setiap kelas tujuh itu tidak diperbolehkan untuk langsung pulang karena ada sebuah kegiatan ekstrakulikuler Pramuka. Jadi, pulangnya lebih telat dari tingkatan yang lain dan kakaku pada saat itu langsung pulang tanpa mengabari aku terlebih dahulu, tepatnya pada jam 14.00 ketika aku masuk ke kelas 8 tempat kakaku berada ternyata sudah tidak ada, aku mencari kesana kemari di sekolah tapi tidak ada dan akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di masjid putri, di sana aku bertemu dengan teman kakaku dan aku bertanya apakah dia melihat kakaku dan ternyata, kakaku sudah pulang lebih dulu.
Hampir setengah jam aku menunggu di masjid putri, aku bingung harus kemana, dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri dan ketika aku meraba tas ternyata uang-uangku tidak ada di sana sama sekali dan aku ingat bahwa semua uangku itu aku titipkan ke kakak, aku panik sekali karena di sekolah persis tarogong itu ketat tidak diperbolehkan membawa handphone dan pada saat itu aku belum memiliki handphone aku bingung harus gimana karena aku tidak begitu cukup kenal dengan orang-orang di sana dan biasanya ketika ada kejadian hal itu harusnya aku melapor ke pak satpam penjaga gerbang untuk mengirimkan SMS Atau menelpon keluargaku, namun masalahnya aku tidak tahu nomer penduduk rumah satupun.
Aku menangis sambil berjalan menuju simpang lima. Dan pada akhirnya, aku memutuskan untuk berjalan kaki, karena bagaimanapun caranya aku harus pulang ke rumah, cukup lama aku berjalan kaki ketika di Tarogong tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang, aku tidak menyadari itu siapa dan aku tidak berani menatap ke belakang aku takut itu adalah penculik yang jahat, namun orang itu justru menepuk pundakku dan berkata “adek” lalu ketika aku melirik ternyata itu adalah kakak laki-lakiku di sana aku langsung dipeluk dan disuruh untuk menaiki kendaraannya.
Ketika di kendaraan, kakaku marah kenapa aku berani untuk berjalan kaki sampai berjalan sejauh tadi, pada saat itu aku menceritakan semua kejadian apa yang aku alami pada hari itu bagiku itu adalah hal yang paling mencengangkan dan kakaku menasehati bahwa jika nanti terjadi lagi hal yang seperti ini, tunggu saja nanti pasti akan kakak jemput atau minta ke pak satpam untuk menelpon dan selalu mencatat nomor telphone rumah. Yang intinya, nanti kedepannya tidak boleh terjadi lagi hal yang demikian. Karena, ini merupakan sesuatu yang membahayakan semua keluarga khawatir, aku selalu ingat bahwa setiap kejadian yang menimpa pasti akan selalu ada hikmahnya, entah itu sebagai sebuah pelajaran agar kedepannya selalu menerapkan kehati-hatian dan selalu tenang tidak boleh panik nanti pasti akan ada jalannya juga tidak boleh berfikir pendek ketika bertindak.
Pada masa-masa aku kelas tujuh aku memulai kembali beradaptasi dengan hal yang baru, baik itu lingkungan, teman dan yang lainnya, sebenarnya cukup sulit bagiku untuk memulai hal yang baru, teman pertamaku di masa kelas tujuh yaitu Syifa al-qolbi kenapa aku kenal karena dia merupakan adik dari teman kakaku. Sehingga, aku dikenalkan dengan dia. begitupula pada bidang akademik aku sulit sekali bersaing dengan teman-teman di sana karena rata-rata pelajaran agamanya belum pernah aku pelajari semuanya. Namun aku percaya bahwa aku masih belajar dan belum bisa jika aku sudah bisa untuk apa aku belajar.
Di sekolah PPI Tarogong, ketika aku masuk kelas 7 diamanahi oleh teman-teman untuk menjadi seksi kebersihan, bisa dibilang aku ditunjuk sebagai orang yang menata tentang kebersihan di kelas, aku yang menentukan jadwal piket setiap orang, dan orang yang bertanggung jawab terhadap peralatan kebersihan di kelas dan itu sebuah pengalam kedua aku menjabat di organisasi kelas, yang tentunya pasti ada suka dan duka yang aku lewati ketika aku menjabat sebagai seksi kebersihan.
Aku di MTS Persis Tarogong mengikuti banyak kegiatan ekstrakulikuler. Ada banyak pilihannya mulai dari, tata boga, tata busana, seni kriya, karate, jurnalistik, taisukhan, sepak bola, dan masih banyak lagi. Dengan pilihan yang banyak itu jadinya aku sulit untuk memutuskan. Dan akhirnya, karena aku menyukai kesenian maka aku memilih ekstrakurikuler seni kriya, yang pada saat itu gurunya adalah Bu cucu Jubaedah yang merupakan ibu dari salah seorang temanku di sekolah. Di sana, aku belajar mengenai berbagai kesenian, di seni kriya itu kita lebih menggunakan bahan-bahan sisa namun diolah kembali. Sehingga, bisa menjadi indah dan layak untuk digunakan, aku penah membuat Bros bunga dari kain bekas kemudian membuat sendal dari kain sisa. kita melakukan kegiatan itu setiap hari Selasa satu kali dalam seminggu. Biasanya, kami sering menerima kumpulan bahan sisa dari orang-orang untuk kami olah kembali dan masih banyak lagi kegiatan aku di ekstrakulikuler seni kriya, karena kegiatan apapun yang kita suka pasti akan menyenangkan.
Biasanya setelah aku selesai menyelesaikan tugas-tugas seni kriya, maka aku disuruh oleh guruku untuk mengajarkan teman-teman yang belum bisa, ini adalah salah satu hobi yang paling aku sukai makanya aku adalah orang yang paling cepat mengerti ketika dijelaskan oleh guru seni kriya dan di sana kita itu belajar untuk berdiskusi mengenai hal-hal yang akan kita gali mengenai kesenian.
Dalam ekstrakulikuler seni kriya, aku berkelompok dengan orang-orang yang berbeda kelas semua. Makanya di sana aku disatukan dengan orang-orang baru dan aku bisa berkolaborasi dengan teman yang berbeda, bisa bertukar imajinasi bersama, dan masih banyak lagi pengalaman dan ilmu yang aku dapatkan bersama mereka.
Hampir 3 tahun selama MTS aku mengikuti ekstrakurikuler seni kriya. Di sana, aku menjadi bisa dalam berbagai kerajinan suatu ketika pada saat aku menginjakan kaki di kelas 8 aku membuat sebuah kerajinan dengan tingkat kesulitan paling tinggi, yaitu merajut pakaian bayi, sepatu, dan tas selempang, ketika aku memberikannya kepada guru seni kriya, ibunya bilang bahwa ini hebat dan aku diberikan apresiasi oleh sekolah dengan diberinya sebuah hadiah, pada saat itu aku selalu dipromosikan oleh guru ke setiap kelas-kelas yang dia kunjungi. Ketika libur tiba, aku dan teman-temanku dikasih kepercayaan oleh sekolah untuk menghias area kantor guru dari hasil kesenian yang kita buat.
Setelah melalui masa-masa MTS aku menyadari bahwa hobiku pada saat itu adalah membuat kerajinan, alasannya adalah karena kerajinan itu adalah seni yang paling menyenangkan aku meresa dengan belajar seni tidak ada tekanan dan aturan, imajinasi kita bebas dikeluarkan. Karena, disitulah sebuah seni yang sesungguhnya dan ketika aku mengerjakan itu semua aku merasa bahagia dan senang seakan tidak ada beban sama sekali.
Di MTS juga aku pernah mengikuti mukhoyam tarbawi yang selalu diadakan setiap 3 tahun sekali yaitu pada saat aku kelas 8, itu merupakan pertama kalinya aku menginap diluar rumah, rasanya itu sangat menyenangkan banyak hal-hal baru yang aku temui di sana. Namun, ada sebuah kejadian yang menakutkan yaitu terjadinya hujan yang sangat deras, hampir semua tenda-tenda banjir oleh luapan air hujan, kemudian banyak yang sakit, semua orang panik salah satunya aku, banyak yang tidak sadarkan diri di sana. Akhirnya, mobil sekolah datang dan mengantarkan mereka yang sakit pulang ke rumah. Namun, yang masih kuat tetap melanjutkan kegiatan di sana karena hanya tinggal satu hari lagi kegiatannya.
Pada saat malam terjadinya banjir aku termasuk orang yang sedang sakit, badanku tidak bisa digerakkan bahkan aku tidak bisa berjalan, aku di alihkan ke tenda besar tempat panitia menginap. Di sana cukup aman, aku hanya bisa berbaring tidak bisa melanjutkan kegiatan malam itu, pengalamanku yang paling berkesan ketika di sana adalah banyak suka dan duka yang aku lewati. Namun, aku bersyukur bisa menjadi bagian dari orang yang ikut serta dalam acara itu.
Di mukhoyam itu kita dilatih mandiri, bagaimana kita bisa hidup tanpa orang tua, melatih sebuah kekompakan antara sesama teman, dituntut untuk disiplin dalam segala tindakan, berpetualang dengan hal-hal baru yang sebelumnya tidak aku dapatkan di rumah, dituntut untuk bisa belajar memasak walau dalam prakteknya tidak sesempurna apa yang dibayangkan, nasi yang kurang matang, terlur yang gosong, dan masih banyak lagi. Namun, aku melewati itu semua dengan penuh kesenangan.
Waktu pulangpun tiba, aku membereskan terlebih dahulu barang-barang yang aku bawa dan bergegas untuk merapikannnya dengan cepat. Karena, setiap kegiatan itu pasti dikasih sebuah durasi waktu dengan waktu yang cukup singkat. Baik berangkat maupun pulang, setiap kelas kita menggunakan 1 truk mobil ketika berada di truk aku merasakan ada angin yang sejuk dan cuaca yang bagus. Kemudian saling berpegangan tangan bersama teman-teman karena ada rasa khawatir takut jatuh.
Setibanya di sekolah aku bingung, teman-temanku yang lain sudah pada dijemput oleh keluarga mereka masing-masing dan aku belum tau apakah aku akan dijemput atau tidak barang-barang yang aku bawa cukup banyak, termasuk selimut yang lumayan besar, dan akhirnya aku menunggu di mesjid, aku berharap ada yang menjemputku pada saat itu, setelah aku menunggu beberapa jam akhirnya aku memutuskan untuk pulang menggunakan angkutan umum, karena harapanku sudah hilang ketika waktu menunjukan pukul 12.00 siang, hampir 2 jam aku menunggu di mesjid.
Ketika aku memutuskan mengunakan angkutan umum. Dari sekolah itu aku harus berjalan terlebih dahulu untuk sampai di sebuah pemberhentian tempat angkutan umum berada, setelah aku masuk angkutan umum di sana aku sendirian, akhirnya mang angkot memutuskan untuk menunggu agar mobilnya penuh ada 5 menit lebih aku meninggu dan akhirnya mobil angkutan umum itu penuh dan berangkat menuju tujuan.
Setibanya di rumah, ibuku heran kenapa aku pulang sendiri padahal kakak baru saja berangkat untuk menjemputku dari situ aku sedikit sedih kenapa menjemputnya terlalu lama dan aku merasa bosan di sana ibuku menjelaskan bahwa kakak sedang sakit dan tidak ada yang bisa menjemput tapi kakaku memaksakan diri untuk menjemput akhirnya ibuku menelpon kakaku yang baru berangkat untuk pulang kembali. Melihat keadaan kakaku yang lagi sakit pada saat itu, aku menjadi merasa sedih kenapa harus memaksakan diri untuk menjemputku.
Pada saat SMP aku sempat keserempet motor ketika menyebrang akan pulang, setiap pulang pasti harus menyebrang terlebih dahulu untuk bisa menaiki akutan umum. Pada saat itu, aku kelas delapan dan kejadiannya ketika sehabis menghias kelas sore hari aku takut terlalu malam untuk pulang dan pada saat itu sedang terjadi hujan yang sangat deras. Sehingga, aku berjalan dengan cepat dan hanya punya satu tujuan yaitu ingin cepat menaiki angkutan umum. Tiba-tiba ada sebuah motor dengan Kelajuan yang sangat tinggi melintas dengan cepat hampir menabrak tubuhku dan tidak tau apa yang terjadi pada saat itu tiba-tiba aku masih dilindungi dan ditolong oleh Allah ketika itu aku masih bisa menghindar dari motor dan hanya terjatuh saja, untungnya aku langsung sadar dan bangkit kembali dengan cepat aku masuk angkutan umum dan pulang.
Makanan yang paling aku suka ketika di SMP itu banyak. Karena, di sana itu banyak sekali yang menjual makanan dan rasanya itu enak semua aku pasti ingin merasakan semua hidangan makanan dikantin, makanya aku dan temanku memiliki sebuah jadwal makanan setiap harinya dengan menu yang berbeda-beda agar semua makanan bisa dirasakan. Namun, ada satu makanan yang paling aku suka diantara yang lain dan harganya itu sangatlah murah sekali yaitu gulcin singkatan dari gulungan cinta kalau kata si bibi, yang merupakan makanan favorit dan peminatnya banyak karena harganya yang murah juga rasanya enak dengan harga satuannya itu Rp.1000 yang merupakan berbahan dasar Aci, pangsit, dan ikan.
Makanan favoritku selanjutnya yaitu surabi yang dibalut dengan terigu yang berisikan saus dan telur harganya itu bisa Rp.2000 atau Rp.3000 sesuai dengan keinginan, rasanya itu sangat enak apalagi aku yang sangat suka sekali dengan pedas surabinya itu pasti harus pake pedas yang banyak, karena bagiku tanpa cabe apalah arti sebuah hidup, cabe merupakan salah satu yang membuat aku menjadi penambah selera makan, setiap akan makan pasti harus disediakan satu buah cabe dan dimakan bersaman dengan nasi dan lauk pauk lainnya.
Setiap bel pulang sekolah berbunyi, yaitu tepatnya pada jam 14.00 aku pulang bersama teman yang searah denganku ke samarang, ternyata banyak sekali teman yang searah denganku dan darisana aku mulai terbiasa pulang tanpa kakak. Karena, aku merasa banyak teman jadi tidak mau terus merepotkan kakakku yang selalu menunggu aku selesai pembelajaran, ketika aku berangkat dengan teman-teman, aku mulai mengerti dan mengenal tentang rute-rute tempat mereka, mulai dari pemberhentiannya dan tempat tinggal mereka, di dalam angkutan umum kita tidak lupa selalu berbincang-bincang dengan hal-hal yang lucu dan receh namuan berkesan yang membuat aku ingin kembali lagi ke masa-masa itu.
Pengalamanku mengenai berdagang, waktu kelas tujuh aku pernah berjualan piscok hangat produk sendiri yang membuatnya itu adalah ibuku sendiri. Setiap malam aku dan ibuku membuatnya dan ketika Subuh ibuku menggorengnya, jadi ketika tiba di sekolah piscoknya masih hangat dan menjadi sarapan pagi hari bagi teman-temanku yang menginginkannya. Awalnya, aku berjualan sedikit masih terhitung oleh jari kalau tidak salah pada saat itu aku membawa 10 pcs ke dalam wadah, setibanya di kelas aku masih ragu dan takut, akan tetapi aku mencoba untuk bilang bawa aku berjualan piscok tiba-tiba teman-temanku langsung menyerbu dan habis dalam seketika, aku menjual piscok itu dengan harga Rp.1500 /2pcs dan keesokan harinya aku membawa lebih dan akhirnya jualanku semakin hari semakin laris manis.
Selain berjualan piscok aku juga menjual kerupuk. Rasanya itu ada pedas dan tidak pedas seperti kurupuk ikan, makroni, dan masih banyak lagi aku menjualannya dengan harga Rp.1000 aku selalu membawa 30 bungkus setiap harinya dan itu pasti ludes habis dalam sekejap, Alhamdulillah aku pernah ada diposisi ini karena ini semua merupakan sebuah proses dan pelajaran bagi aku pribadi khususnya dan sadar sesusah ini orang tua kita banting tulang agar bisa menafkahi kita. Padahal ini merupakan awal dari semuanya.
Selain itu, Aku juga sering mengambil makan dari produk jualan orang lain dan tentunya aku pasti diberi sebuah upah sesuai dengan jumlah barang yang berhasil aku jual. Pada saat itu, aku berjualan makroni geer yang harganya itu Rp1000 dan aku mendapatkan upah Rp.200/pcs. Itu juga merupakan hal yang cukup menantang dan memudahkan aku berjejaring dengan orang baru, berkolaborasi dan mendapatkan pengalaman yang luar biasa penghasilan ku Setiap harinya adalah Rp.50.000 perhari dan selalu aku tabungkan.
Kemudian pada saat aku menginjak kelas sembilan, aku mulai fokus berjualan manset setiap ke sekolah aku membawa 10 manset dan Alhamdulillah aku memperoleh Rizki lebih, awalnya aku berjualan dari teman kakaku setiap bulannya pasti harus pengambil barang dan menyetorkannya. Namun, seiring berjalannya waktu kakaku berinisiatif untuk membeli mesin obras dan membuatnya sendiri bahannya itu berupa kaos yang lentur mudah dibentuk dan nyaman ketika dipakai.
Selama 1 Minggu setelah mesin itu dibeli dan dicoba untuk digunakan yang pertama kali bisa memakainya adalah kakaku karena dia pernah mengikuti kursus menjahit dan tau bagaimana cara menggunakannya, kemuadian aku disuruh untuk belajar dan aku bisa memakai mesin setelah belajar 1 Minggu. Setiap pulang sekolah aku pasti membantu kakaku untuk menyelesaikan proses memotong, mengukur dan mengobras, hampir 50 pcs manset selesai setiap harinya.
Aku menjual manset dengan harga Rp.5000 perpasang dan paling banyak pemasarannya itu adalah ke Setiap sekolah-sekolah PPI, jadi aku dan kakaku mempromosikannya ke setiap PPI yang ada di Garut. Namun, seiring berjalannya waktu banyak yang memesannya dari berbagai daerah samapai ke luar pulau Jawa barat. Seperti, Madura dan yang lain sebagainya.
Ketika dipenghujung akhir kelas 9 aku berhenti berjualan karena ingin fokus menghadapi ujian-ujian. Dan tepatnya pada tahun 2018 aku memutuskan untuk membeli handphone pertama kali dari hasil menabung aku selama ini, karena sebelum-sebelumnya aku tidak mempunyai Handphone jadi jika aku membutuhkan kabar atau informasi maka aku akan menggunakan handphone milik kakaku. Namun, sekarang sudah berbeda lagi aku menjadi punya handphone sendiri dan itu membuat aku bahagian.
Dan yang harus selalu aku ingat bahwa jika menginginkan sesuatu bersabarlah terlebih dahulu. Karena, dengan kesabaran itu ada hal indah yang tidak akan aku dapatkan dimanapun, pasti Allah sedang menyiapkan sesuatu yang terbaik dan tetaplah bersyukur atas apa yang telah Allah berika kepadamu, hidup di dunia itu sangat fana. Namun, itu merupakan ladang pahala yang perlu dijadikan sebagai tujuan bersama.
Selama aku mengenal dunia hampir 14 tahun pada saat itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Karena, belum terlalu banyak hal yang perlu dipikirkan hidup itu sangat enjoy yang perlu aku sadari bahwa dunia ini indah dan kita harus memupuknya dengan kehangatan dalam setiap proses hidup pasti harus melewati berbagai hal baik itu yang aku mau atau tidak, karena aku tidak mungkin bergelut dengan pikiranku yang menganggap bawah aku tidak bisa. Jalani apa yang menjadi seharusnya itu terjadi hebat dengan caranya sendiri, terimakasih untuk masa MTS-ku yang penuh dengan berbagai hal yang mengasikkan. Proses setiap orang itu pasti berbeda-beda dan aku bersyukur menjadi apa adanya diriku di masa-masa ini.
Tiba saatnya aku akan menempuh ujian di kelas sembilan, aku lebih ketat dalam pelajaran, yaitu mengikuti sebuah les mata pelajaran yang akan diujiankan, kegiatannya itu diadakan tiga kali dalam satu Minggu, Jamnya itu menyesuaikan jadwal sekolah yaitu sehabis beres pembelajaran inti, dari jam 14.00 sampai jam 16.00. banyak kenangan yang aku dapatkan dari kegiatan ini, banyak berdiskusi dengan Teman-teman, selalu makan bersama, dan ada rasa saling melengkapi diantara sesama teman.
Satu bulan ketika akan diadakannya ujian, di jejang Mualimien sudah diadakan pendaftaran bagi santri baru. Aku mulai memikirkan bagaimana tujuan sekolahku kedepannya. Ketika aku berdiskusi dengan teman-teman terdekatku, mereka ada yang ingin meneruskannya di sana lagi dan ada yang memutuskan untuk pindah ke SMA dan SMK, sebenernya yang aku bingungkan pada saat itu ialah ibuku pernah bilang bahwa aku harus pindah ke PPI 73 agar dekat dengan rumah dan tidak perlu jauh-jauh untuk pergi ke sekolah, tapi itu perkataan ibuku dulu ketika aku masih di kelas delapan.
Setelah dipikirkan, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada ayah dan ibuku, bagaimana kelanjutan sekolahku apakah aku pindah atau tetap meneruskan sekolah di sana. Malam hari pun tiba, yaitu ketika keluargaku sedang berkumpul di ruang tamu, biasanya pada jam-jam itu mereka selalu mengobrol bersama dan menurutku itu waktu yang tepat untuk aku membicarakannya bersama mereka, setelah selesai berdiskusi dengan mereka, akhirnya aku mendapatkan sebuah jawabannya. Orang tuaku membebaskan aku, memilih apa yang terbaik untuku, aku berpikir sejenak, karena pada saat itu kakakku mengarahkan aku untuk ke PPI Cibegol dan setelah dipikir-pikir kembali aku termasuk orang yang tidak bisa jauh dari orang tua, disisi lain aku adalah anak bungsu dan kakak-kakakku sudah pada menikah. Kecuali, kakaku yang keenam. Di sana aku memutuskan untuk melanjutkan kembali jenjang sekolahku di MA Persis Tarogong.
Yang sekarang aku pikirkan adalah mengenai jurusannya, di MA persis Tarogong itu ada 3 jurusan yaitu IPA, IPS, dan IAI. Ketika aku berdiskusi dengan teman rata-rata mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Imu Pengetahuan Sosial (IPS) , karena itu merupakan jurusan yang paling banyak diminati oleh orang-orang karena berpengaruh terhadap perkuliahan nantinya, biasanya peluang mengambil jurusan itu sangat tinggi diterima di universitas ternama sehingga banyak teman-temanku mengarahkan aku masuk ke jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, di sana aku berpikir kembali sembari bertanya pada kakak kelas yang sedang menempuh jengjang mualimin.
Jawabannya tentu pasti ada pada diriku sendiri. Namun, untuk menemukan jawaban yang tepat aku membutuhkan referensi yang membawa aku terhadap yakin dalam bertindak, ternyata ketika aku bertanya pada diriku sendiri ada beberapa hal yang aku kurang dalam bidang IPA dan IPS, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jurusan Ilmu Agama Islam ( PAI ), banyak sekali kebimbangan yang aku lalui. Dan aku yakin terhadap jurusan itu karena insya Allah aku bisa, karena dijurusan itu aku belajar agama Islam secara mendalam.
Aku dan teman-temanku memutuskan untuk daftar bersama ke tempat sekretariat pendaftaran. Di sana, aku disuruh untuk mengisi persyaratan dan berkas-berkas kemudian setelah selesai akhirnya aku mendapatkan nomor ruangan dan nomor peserta penerimaan santri baru dan testingnya itu dilaksanakan satu bulan dari pendaftaran. Sebelum menjelang ujian-ujian dimulai, akhirnya tiba proses seleksi penerimaan santri di MA persis tarogong, karena ada acara seleksi maka seluruh santri diliburkan selama 2 hari, yaitu pada hari Sabtu dan mingggu, tesnya itu terdiri dari 3 seleksi yang pertama akademik, hafalan alquran dan tes psikotes dari untiversistas UPI.
Untuk seleksi akademik itu sudah tidak asing menurutku. Karena, materinya sama dengan apa yang diajarkan di Tsanawiyah, sehingga itu cukup mudah dan untuk hafalan karena aku mengambil jurusan non beasiswa maka yang di tesnya itu adalah juz 29 dan 28, Alhamdulillah proses seleksi akademik lancar, beres tepatnya pukul 12.00. Sebelum pulang kita dikasih makan terlebih dahulu dan aku memakannya bersama teman MTS-ku di sana dan dilanjutkan besok dengan tes psikotes.
Tiba waktunya seleksi hari kedua tepatnya hari ahad, tesnya itu dimulai dari jam 08.00-11.00 dengan soal-soal yang luar biasa banyak dan memusingkan, pertama kalinya aku melakukan psikotes, karena sebelumnya aku tidak pernah kecuali pada aplikasi game yang mengadakan psikotes namun itu tidak resmi dan hasilnya tidak begitu akurat, di sana kita mengis soal yang cukup aneh seperti anatonim, sinonim, analogi, kata acak, dan masih banyak lagi dengan kategori soal yang banyak sekali hampir kurang lebih 700 soal aku mengisi, ada yang tidak sempat aku isi karena kurangnya waktu. Namun, itu adalah pengalaman yang mengesankan dan aku ingin mencobanya lagi sekarang.
Alhamdulillah ujian seleksinya selesai, sebelum pulang semua peserta diberi susu dan roti. Karena, mereka menyadari bahwa soalnya itu banyak dan sulit terlihat dari raut wajah peserta. Yang mendaftar itu tidak semua dari Mts 76 Tarogong saja, akan tetapi dari berbagi PPI yang ada di indonesia, aku bertemu dengan teman baru di sana, ada yang dari PPI Tanggerang dan PPI Mambaul huda kita sama-sama berdoa agar bisa masuk dengan harapan menjadi lebih baik dari sebelumnya, meskipun hanya kenal dalam sesaat. Namun, menjadi kenangan tersendiri sama-sama berharap agar bisa meneruskan pendidikan bersama dan ketika aku tanya jurusannya sama dengan yang aku pilih, di sana aku bertukar cerita dengan mengalam yang dialami masing-masing dan aku bersyukur bisa bertemu dengannya, menambah jejaring pertemananku dan menambah wawasan.
Testing berakhir, kini aku dihadapkan dengan uijan kelas sembilan, mulai dari UAM, UN dan UAP. Ketika ujian UAP berlangsung yang mana itu merupakan hari pengumuman lulus atau tidak diterima di MA Persis Tarogong dan pengumumannya itu kirimkan lewat SMS ke Handphone orang tua, pagi itu aku sangat takut dan khawatir, takut tidak keterima yang menjadiakan aku harus pindah sekolah.
Ketika aku sedang menghafal pelajaran yang akan di ujiankan. Tiba-tiba, ponsel ayah berbunyi dan ada sebuah pesan yang inti dari pesan itu adalah,”selamat anak anda diterima menjadi siswa baru MA persis tarogong, dengan jurusan Ilmu pengetahuan Alam” setelah membaca pesan itu aku menangis gembira dan berteriak, bilang kepada kedua orang tuaku bahwa aku keterima di MA Persis Tarogong. Hari itu, aku kebagian jadwal siang, setelah aku tau infonya aku langsung berangkat ke sekolah dengan keadaan gembira dan ingin menanyakan kepada teman-temanku yang lain bagaimana hasil mereka.
Ilmu pengetahuan alam, itu jurusan yang aku terima. Padahal aku tidak memilih jurusan itu dan banyak orang di luar sana yang menginginkan jurusan itu, kata pihak sekolah itu baru hasil dari akademik. Katanya, nilai akademiku masuk pada kategori jurusaan Ilmu pengetahuan Alam dan nanti akan keluar hasil menurut tes psikotes dan setelah beberapa hari munculah hasil tes psikotes dan akhirnya aku keterima di jurusan yang aku mau yaitu Ilmu Agama Islam.
Hari kelulusan tiba, setiap angkatan mengadakan pelepasan setiap tahunnya. Itu merupakan masa terkahir bagi aku untuk bertemu dengan teman-teman karena tidak semua teman-temanku melajutkan sekolahnya di sana, ada yang sudah keterima di Insan Cendiki, SMA 1 Garut dan yang lain sebagainya. Hari sebelum kegiatan inti kita semua berkumpul tepatnya pada sore hari yaitu mengadakan gladi bersih yang diadakan oleh panitia penyelenggara. Karena, ada beberapa gerakan yang harus kita hafal ketika nanti dipanggil oleh pihak lembaga sebagai bukti pelepasan dari MTS Persis Tarogong Garut dan ada beberapa penampilan dari perwakilan angkatan sebagai bentuk hiburan dan kenang-kenangan dari angkatan kami.
Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba yaitu pelepasan santri angkatan 36 semua kompak memakai seragam baju krem dan almamater angkatan, dimulai pukul 08.00 sampai selesai dan orang tua setiap murid telah hadir dan menduduki setiap bangku yang telah disediakan oleh panitia, acaranya berlangsung cukup meriah. sebelum pulang tiba, aku dan teman-teman yang lainnya melakukan musofahah atau salam saling bermaapan, disitu aku menangis karena sedih mengingat bahwa ini adalah sebuah kenangan yang tidak bisa diulang, berharap akan ada waktu yang bisa menyatukan kita kembali tentunya nanti kelak disyurganya Allah.
Terimakasih untuk semua kenangan dan pengalaman yang aku dapatkan di sekolah ini, terutama khususnya kepada guru-guru yang telah membimbing dan mengajariku bagaimana menjadi manusia yang senantiasa harus terus mengingat Allah, karena mereka aku menjadi aku yang sekarang pengajaran apa yang mereka berikan memotivasi aku untuk terus bergerak dan tidak pantang menyerah dalam segala aspek kehidupan, juga kepada teman-teman seperjuanganku yang telah membatu aku bertumbuh menjadi orang yang mengenal bagaimana caranya kerja sama dan saling memahami diantara sesama teman yang tidak akan pernah aku lupakan.
Libur yang aku dapatkan ketika selesai ujian kelas sembilan cukup lama dan aku menggunakan waktunya untuk berlibur dan membaca buku, menonton ceramah, juga tak lupa aku berusaha menjadi lebih dekat dengan keluarga, sering mengobrol dan bertukar pikiran mengenai masalah-masalah dalam sebuah forum diskusi, juga bukan hanya di rumah saja, aku selalu berlibur kerumah kakakku yang ada di Bandung tempatnya di permata biru, di sana ada keponakan yang selalu aku ajak bermain bersama. Setiap hari libur sekolah kakaku selalu mengajak aku untuk berlibur ketaman Bandung atau ketempat rekreasi yang menyenangkan lebih seringnya ke museum atau alun-alun Bandung dengan menggunakan kendaran bermotor.
Berlibur merupakan sala satu self healing bagi diriku sendiri. Karena, dengan berlibur aku merasa bebas dan menemukan siapa aku sebenarnya dan yang paling aku suka adalah ketika berlibur ke museum. Di sana, aku banyak menemukan pengetahuan sejarah-sejarah yang sebelumnya aku hanya tahu sebatas dalam buku dan pelajaran di kelas sehingga ketika datang ke museumnya langsung aku melihat kebeneran nyatanya seperti apa mulai dari fosil, tumbuhan, dan yang lain sebagainya. Dan yang paling aku suka itu ketika main ke pantai di sana adalah tempat ternyaman bagiku untuk menjernihkan pikiran dan mengontrol emosi diri sendiri, bisa mengenal keingin diri itu seperti apa dan ketika berada di sana aku menjadi lupa terhadap masalah yang aku hadapi.
Sebuah pengalaman tidak ada yang sia-sia karena setiap yang kita lalu pasti akan ada manfaatnya, setiap Jalan yang dilalui pasti ada hikmahnya dan ambil sisi positifnya, aku yakin bahwa apapun yang aku kerjakan jika itu tujuannya mengharapkan ridho Allah pasti ada hadiah istimewa yang telah Allah siapkan.
Liburanpun berakhir, tiba saatnya aku masuk pendidikan jengjang Mualimien, awal mulanya aku kira akan sekelas dengan teman-temanku ketika di Tsanawiyah. Namun, pada kenyataanya kita di pisah, karena kelas IAI itu ada tiga kelas, satu kelas RG dan dua kelas UG, jadi tidak menutup kemungkinan akan berbeda kelas. Pada hari pertama masuk, kita berkenalan terlebih dahulu karena banyak yang belum saling kenal, pada saat itu aku diwali kelasi oleh Bu Maryam musfiroh yang merupakan guru mata pelajaran matematika dan fisika.
Dan pada hari pertama sekolah, aku disuruh untuk memperkenalkan diri kepada teman-teman begitupun yang lainnya. Selain memperkenalkan diri kita juga disuruh untuk menyebutkan alasan kenapa meneruskan sekolah ke sana dan alasan kenapa mengambil jurusan ini aku menjawab bahwa karena jurusannya sesuai dengan yang aku inginkan. Kemudian, merasa menjadi sebuah hal istimewa bisa menimba ilmu di lingkungan pesantren, dan mudah-mudah dengan pilihanku mengambil jurusan ini, bisa mengantarkan aku pada jalan yang baik dan tidak terpangruh oleh pergaulan-pergaulan yang tidak baik.
Alasan terbesar aku mengambil jurusan ini adalah karena jurusan ini lebih banyak mata pelajaran agamanya dan harapan orang tuaku adalah ingin anaknya bisa menjadi guru dan pendakwah di masyarakat nanti juga pelajarannya sesuai dengan kemampuan dan aku suka dengan pelanjaran yang diajarkan di jurusan ilmu agama Islam.
Di jenjang mualien kelas sepuluh, aku mengikuti 2 ekstrakurikuler yang pertama adalah tata busana dan karate, di tatabusana aku belajar mengenai cara mengukur badan untuk membuat baju dan cara membuat polanya itu dilaksankan setiap hari Kamis, di sana aku belajar bagaimana cara menggunakan mesin jahit dan membuat kerudung. Begitu pula pada ekstrakulikuler karate, aku belajar cara gerakan-gerakan untuk membentengi diri dan bisa melawan orang lain tentunya dalam konteks ketika terjadi bahaya maka aku bisa melindungi diri sendiri. Hampir 1 tahun aku mengikuti ekstrakurikuler itu. Sehingga, Alhamdulillah aku bisa menambah wawasan dan pengalaman yang baru.
Untuk jenjang kelas sepuluh semuanya diwajibkan mengikuti ekstrakulikuler Pramuka, karena itu merupakan syarat kelulusan naik kelas dan pada saat itu aku di mentori oleh Kak mela, aku dituntun untuk bisa belajar BPAB, belajar rapih dan disiplin, setiap hari Kamis aku pasti merasa tidak bersemangat karena, kegiatannya itu diadakan di lapang sekolah dalam keadaan terik matahari yang panas yaitu tepatnya pukul 13.00.
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa aku sudah mulai masuk kelas sebelas dimana sebentar lagi akan dihadapkan dengan subuah studytour hal yang paling aku tunggu-tunggu pada masanya dan awal masuk kelas hari pertama aku kelas XI IAI 2, kami satu kelas dikejutkan dengan sebuah perpisahan dadakan antara XI IAI 2 dan XI IAI 3 dijadikan oleh sekolah sebagai bahan percobaan dari hasil studi banding ke DA, di sana itu antara non asrama dan asrama dipisah makanya kelas aku yang dijadikan sebagai bahan percobaan jika suatu hari nanti sistemnya harus diganti.
Awalnya kami menolak, kenapa kelas kami yang harus dijadikan sebagai percobaan dan itu kejadiannya sangat dadakan sekali karena kami baru dikasih tahu ketika hari pertama masuk aku sangat sedih begitupun teman-temanku yang lainnya kami menangis dan berusaha untuk bicara baik-baik kepada pihak kesatrian pihak kesantrian bilang bahwa “gapapa nikmati saja nanti juga masih tetep bisa ketemu kita masih dalam rumpun atau sekolah yang sama”. Ujarnya
Pada akhirnya kita menerima keputusan dari pihak sekolah aku termasuk non asrama sehingga harus pindah kelasnya ke XI IAI 3 sebelum keluar aku bersalaman terlebih dahulu dengan teman-teman sekalian mengucapkan terimakasih dan maaf sebagai akhir dari perpisahan. Semua kelas menangis dengan keadaan ini, siapa sangka aku harus merasakan perpisahan dadakan yang sebelumya tidak pernah direncanakan.
Proses perpisahan dadakan pun telah selesai aku dan teman-temanku yang non asrama keluar kelas dan memasuki kelas XI IAI 3, di sana sudah ada wali kelas yang bernama Bu Nani yang merupakan guru mata pelajaran bahasa Sunda beliau memberikan sebuah kata selamat kepada kami bahwa kita sudah menjadi bagian dari kelas ini, kemudian kami memulai perkenalan lagi satu persatu karena hampir setengahnya kita dipisahkan seperti awal kita perkenalan ketika santri baru
Banyak hal yang mengesankan mulai dari suka da duka yang dilalui, kembali beradaptasi dengan teman-teman baru, dan harus mengenal dan memahami setiap orang yang ada dikelas. Namun, setelah aku mamahami orang-orang itu ternyata aku menyadari bahwa semua yang terjadi pasti ada hikmah dibaliknya. Sedih itu pasti ada tapi bagaimana cara kita menyikapinya. Ternyata dengan adanya perpisahan itu, aku menemukan teman-teman yang luar biasa baik salah satunya yang bernama Risa hapipah aku merasa nyaman berteman dengannya. Karena, dia adalah orang yang paing pengertian dan aku menganggapnya sebagai kakak sekaligus teman yang baik, ketika aku terjadi sesuatu dia adalah orang terdepan yang menghawatirkan keberadaan ku, ketika aku terajdi sesuatu dia yang selalu bilang “kenapa”, aku selalu menghabiskan hari-hari di sekolah dengan dia bertukar pikiran dan bercerita mengenai pengalaman yang lucu yang tentunya dialami oleh masing-masing dari kita.
Aku merasa nyaman berteman dengannya karena aku menjadi orang yang tidak pernah khawatir lagi ketika menghadapi persoalan yang aku hadapi dia selalu memberikan aku sebuah nasihat yang membuat aku tidak bisa melupakannya, selalu ada setiap aku membutuhkannya, intinya dia adalah manusia paling langka yang pernah aku temui, aku cuman mau bilang “ makasih ya, atas kehadirannya penyembuh luka” .
Setelah aku selesai berdiskusi mengenai rencana sekolah kedepannya, akhirnya aku dihadapkan pada ujian PTS ( penilaian tengah semester), sudah ada info beredar mengenai pembelajaran dilaksanakan di rumah masing-masing itu diakibatkan karena muncunya sebuah virus yang bernama Covid 19. Aku dan temanku merasa bahagian karena telah mendapatka libur dengan waktu yang cukup lama padahal saat itu keadaan sedang kritis mengenai masalah Corona yang awal mulanya itu datang dari China, sehingga menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia.
Sekolakku diliburkan selama 2 Minggu padahal dalam keadaan sedang berlangsungnya proses ujian aku ingat sekali, itu merupakan hari Sabtu awal adanya proses ujian berlangsung semua santri langsung diliburkan tanpa terkeculi. Sehingga, ujiannya diberhentikan terlebih dahulu dan ketika aku tiba dirumah tiba-tiba ibuku memberi nasehat kepadaku bahwa harus hati-hati ketika keluar, ternyata info itu sudah beredar di masyarakat, pemerintah menghimbau agar tidak keluar rumah kecuali dalam keadaan terdesak. Karena aku belum tahu bahwa Covid 19 itu berbahaya aku merasa bahagia karena aku mendapatkan libur yang cukup banyak dan memuaskan aku berpikir bahwa nanti juga akan masuk sekolah seperti biasa karena apa yang terjadi menurutku itu nikmati saja.
Dua mingggu berlalu dengan cepat, aku merasa bosan dengan liburan yang aku terima pada saat itu, seharusnya aku masuk sekolah dan bertatap muka seperti biasanya. Namun, ada info terbaru dari sekolah dan belajar dirumahnya dipertambah, aku merasa sangat sedih dan jenuh dan ujian yang sebelumnya tertunda akhirnya dilaksanakan dengan cara ujian daring leawat Google form,
Aku dituntut terbiasa oleh sekolah dengan menggunakan teknologi yang semakin modern. Sejak saat, tatap muka harus terhenti dan beralih pada layar handphone dan leptop. Awalnya ketika dijalani sangat sulit dan susah karena belum terbiasa. Namun, seiring berjalannya waktu aku mulai terbiasa, aku berharap bahwa ini hanya sementara dan kegiatan belajar dilaksanakan secara langsung atau tatap muka.
Kabar yang tidak mengenakan akhirnya datang lagi, yang tadinya di kelas sebelas itu terjadwal adanya studytour ke Jogja akhirnya dibatalkan padahal itu merupakan salah satu momen yang paling aku tunggu-tunggu sekali. Akhirnya harus terpupus menjadi harapan angan-angan yang tidak terjadi, itu adalah moment berharga yang seharusnya diterima oleh murid kelas sebelas pengalaman itu tidak aku dapatkan kembali yang sebelumnya itu terjadi di kelas sembilan yang rihlahnya itu ke Jogja. Namun, aku tidak mendapatkan izin dari orang tua sehingga pada saat itu aku tidak ikuti, qoddarullahnya tidak jadi lagi. Sedih pasti ada tapi mungkin ini sebagai pembentuk karakter kesabaran.
Satu tahun pembelajaran daring telah aku lewati, tidak ada info yang menyebutkan bahawa akan masuk tatap muka. Jika aku menceritakan keadaan itu rasanya sangat sedih dan ingin sekali memberontak tapi tidak bisa. Selama daring yang aku rasakan hanyalah kebosanan dan kejenuhan dikarenakan tidak adanya interaksi antara guru dan murid kemudian murid dengan murid lainnya dan aku merasa belajarnya cukup sulit mengerti karena kita hanya mengandalkan layar yang ada dihadapan mudah nantuk dan malas melakukan kegiatan apapun. Tatap muka yang diharapkan selama ini tidak pernah terjadi, seiring berjalannya waktu aku mulai menerima keaadan ini karena jika aku terus mengeluh tidak ada gunanya.
Ada waktunya ke sekolah itupun hanya mengambil kartu agar bisa mendapatkan kuota gratis dari sekolah. Semua pembelajaran 100% daring tanpa ada tatap muka sekalipun coba bayangkan betapa jenuhnya pada saat itu dan tiba-tiba aku mulai memasuki kelas penghujung di MA yaitu kelas dua belas awalnya akan diadakan belajar tatap muka karena pada saat itu vaksin sudah ada dan guru-guru di sana sudah melaksanakan vaksin. Namun, yang tidak diinginkan terjadi salah satu staf sekolah meninggal dunia ketika dia di isolasi di ruangan Covid-19 akhirnya rencana untuk tatap muka dibatalkan kembali untuk yang kesekian kalinya.
Kelas 12 itu merupakan puncak kelulusan aku dan teman di sekolah menjadi senior yang paling tua diantara adik kelasku, banyak kegiatan yang seharusnya dilaksanakan di jenjang ini. Namun, terkendala dengan berbagai faktor salah satunya adalah karya tulis ilmiah atau sering kita kenal dengan kartul dengan keadaan harus daring mulai dari profosal kartul dan bimbingan. Aku mengambil judul kartul “ Pengaruh Swafoto Terhadap Remaja Menurut Psikologis Dan Agama Islam”. Dengan pembimbing Ustd Agus Abdurrahman. Sangat banyak sekali Lika-liku yang dihadapi mulai dari mencari referensi dan lain sebagainya. Alhamdulillah aku mendapatkan pembimbing ustd yang berasal dari daerah Garut. Sehingga, aku menjadi bisa bimbingan offline agar prosesnya bisa lebih kondusif dan aku mengerti dengan kartul yang aku susun.
Banyak hal yang aku lalui ketika aku menyusun kartul dan yang paling menyakitkan itu ketika pembimbing bilang bahwa hari ini harus bimbingan kemudian ketika aku menunggu tidak kunjung datang, hingga aku menunggu sampai malam, tanpa ada konfirmasi sedikitpun dan itu tidak terjadi hanya satu kali tapi berkali-kali. Namun, itu merupakan tantangan yang menantang dalam hidupku jiga tidak seperti itu maka aku tidak akan mendapatkan pengalaman dan ilmu yang aku hadapi, aku bersyukur pernah mengalami proses kehidpan ini karena sesungguhnya apapun itu pasti ada pelajaran yang bisa kita dapatkan.
Empat bulan berlalu, akhirnya kartul yang telah aku susun selama ini berhasil terselesaikan, semua bab telah di ACC oleh pembimbing dan sudah ditanda tangani oleh beliau aku termasuk orang yang sering bimbingan ada 17 kali aku bimbingan, makanya aku termasuk orang yang paling cepat dalam penyusunan kartul itu.
Tiba saatnya sidang karya tulis ilmiah, aku mendapatkan penguji yang cukup killer menurut kakak kelas. Namun, aku berusah untuk tidak panik asalkan aku kuat terhadap argumen yang aku bawa dan berdasarkan fakta. sebelum sidang berlangsung aku dan pembimbing mengadakan pertemuan untuk yang terakhir kali beliau menyampaikan hal apa saja yang harus dan tidak ada dalam sebuah sidang aku sangat berterimakasih karena telah diberi pembimbing yang pengertian terhadap didikannya dan dia salah satunya orang yang terdepan ketika ada masalah yang menimpa salah satu muridnya, keesokan harinya tibalah hal yang ditunggu-tunggu itu, aku mendaptkan urutan yang paling akhir namun sidangnya berjalan dengan lancar, tanpa ada koreksi sedikitpun pengujinya ada dua yang pertama bertanya mengenai isi kartul dan yang kedua bertanya mengani sistematik penulisan dan Alhamdulillah dari keduanya tidak ada koreksi sedikitpun.
Sidang pun selesai, aku langsung berteriak dan bergembira karena menjadi tenang dan merasa bangga bersyukur dengan diri, ingin mengapresiasi diri karena aku telah berjuang dengan sebaik mungkin meski dalam kenyataanya banyak lika-liku yang aku hadapi. Namun, itu menjadi perjalan yang paling aku nikmati dan merasa rindu ingin kembali pada proses itu, perjalan selanjutnya yaitu mengejar-ngejar penguji agar memberikan tanda tangan bukti kartul telah selesai disidang dan disetujui, akhirnya proses mengenai kartul berhasil aku lalui.
Perjalanku selanjutnya di kelas 12 adalah ujian dan PLKJ ( Proglam Latihan Khidmah Jam’iyah), yang biasanya diadakan diluar kabupaten. Aku dan teman-temanku yang lain berharap agar program ini diadakan dengan semestinya. Namun, setelah berbincang dengan pihak lembaga sekolah plkj diadakn di daerah masing-masing selama tiga mingggu pada bulan ramadhan, melihat keadaan Covid-19 yang masih menyebar luas akhirnya ditetapkan di tempat masing-masing dan tetap dikelompokkan sesuai dengan kecamatan dengan pembimbingnya yaitu Bu enung yang merupakan wali kelasku saat itu.
Banyak kebingungan yang aku peroleh. Mulai dari bagaiman aku mengajar dan akhirnya karena bertepatan bulan ramadhan, dikampungku itu selalu diadakan pesantren kilat (sanlat) akhirnya aku mengajar di sana kita dituntut untuk bisa menggerakkan masyarakat dan itu adalah awal bagi aku bisa berbaur dengan masyarakat di sana karena aku adalah anak rumahan dan jarang keluar sehingga aku sedikit sulit berbaul dengan mereka.
Seiring berjalannya waktu aku mulai memahami arti kebersamaan dengan masyarakat di sana, membantu menyediakan kebutuhan masyarakat dan memberikan apresiasi bagi seseorang dalam beberapa hal mulai dari membereskan lingkungan, mesjid dan yang lain sebagainya, mengadakan sebuah perlombaan bagi anak-anak kemudian diakhiri dengan haflah imtihan diakhir kegiatan Ramadhan. Sebenarnya aku belum tahu bahwa apa hakikat PLKJ yang sebenarnya banyak pengalaman yang belum aku dapatkan di jengjang kelas 12 karena banyak faktor. Yang terbesar adalah akibat adanya persoalan Covid-19. Namun, kegiatan pelaporan pasti harus ada setiap hari dan aku melaporkannya pada pembimbing kartul.
Program Latihan Khidmah Jam’iyah pun telah selesai dilaksanakan dan akhirnya masuk ke tujuan inti yaitu ujian-ujian dan itu diadakan daring. Namun, semakin kesini semakin canggih meskipun ujiannya lewat daring akan tetapi pengawasannya tetap ketat setiap kode mata pelajaran pasti kita disuruh untuk jujur karena disediakan CCTV pada layar handphone sehingga pihak sekolah bisa melihat ketika ujian berlangsung.
Akhirnya aku berada pada kegiatan penghujung yaitu pelepasan kelas 12 angkatan 36 dan itu perwakilan empat orang perkelas untuk datang ke sekolah dan sisanya pelepasan daring, aku salah satu orang yang ditunjuk oleh wali kelas untuk mengikuti kegiatan itu, sangat sedih sekali karena dari awal libur yang 2 Minggu sampai lulusnya tidak pernah ada tatap muka ke sekolah sama sekali, hampir 1 tahun setengah aku belajar di rumah, betapa jenuhnya aku kangen menjadi orang yang disiplin.
Dipenghujung akhir kelas 12, kita disibukan dengan jalur masunya perguruan tinggi yang awalnya aku sempat mengikuti jalur SNMPTN dan SPANPTKIN. Namun, aku tidak mendapatkan restu orang tua alasannya aku tidak boleh terlalu jauh dan akhirnya aku mundur dari semua jalur tes masuknya perguruan tinggi, aku memutuskan untuk bertanya pada orang-orang terdekatku jawabnya sama aku diarahkan untuk masuk ke STAI Persis Garut dan akhirnya aku mendaftar ke STAI Persis Garut lewat jalur prestasi dan mengambil jurusan Pendidikan agama Islam, alasannya adalah karena cita-citaku ingin menjadi seorang dosen.
Setelah memasuki dunia perkuliahan, aku mulai terbiasa dengan sistem disini apalagi aku banyak mengenal orang-orang baru dan pada baik semua memahami setiap situasi dan kondisi yang dihadap, tugas yang begitu banyak dijalani dengan penuh ketekunan, dihadapkan pada keadaan yang memaksa aku untuk mandiri dan langsung terjun pada keadaan yang sebenarnya.
Sebenernarnya masih banyak cerita yang ingin aku sampaikan disini. Namun aku simpulkan saja bahwasanya, hargailah sebuah proses karena proseslah yang membuat kita menjadi ada disini, karenanya kita menjadi manusia yang memahami keadaan baik diri kita sendiri maupun lingkukan selalu percaya bahwa semua yang terjadi itu pasti akan indah pada waktunya.



0 komentar